PENGANTAR
Sebelumnya, blog ini sudah pernah publish dengan title: Dua Obrolan pada Sorehari dan Malamhari, Semuanya Setali Tiga Uang. Lalu, dengan alasan yang sepele bagi kebanyakan bloger mungkin, saya menekan tombol delete, karena di sana-sini belum lagi klop betul tata bahasanya dengan tanda bacanya; serta sebab-musabab lain, yang tak bisa saya jelaskan begitu saja.
Dan, setelah melewatkan beberapa malam pada musim pancaroba di Jatinangor, saya berpikir untuk mem-publish-kannya lagi, dengan pengubahan, dibagi ke dalam dua bab.
Pada akhirnya, saya harus nyatakan juga, bahwa semua ini hanyalah ciptaan semata. Nabokov pernah bilang, “Menganggap ciptaan sebagai kenyataan adalah penghinaan terhadap kenyataan. Ciptaan adalah ciptaan dan kenyataan adalah kenyataan.”
Sedikit informasi, sewaktu meng-edit ini, telinga saya dibuai sebuah lagu lama yang diaransemen ulang, Anggrek Bulan judulnya.
I.
Suatu sore pada penghujung Semester V aku mampir di kosannya, setelah seminggu lebih tidak melihatnya di kampus. Terakhirkali melihatnya di kampus, ia kelihatan berubah, penampilannya berubah, mukanya serius seperti orang mau melamar kerja di perusahaan yang diimpikan selama empat tahun oleh kebanyakan orang yang studi di universitas. Ia rapi, pake kemeja, dan sepertinya kemeja dan celana jinsnya baru beli—pake map segala.
Aku bertanya kepadanya waktu itu, apa isi mapnya. Surat berhenti kuliah, katanya. Ia duduk di dekatku, di bawah kanopi depan gedung dua, tak jauh dari pohon mangga.
“Boong,” katanya. Ia membuka map bewarna kuning itu. “Lu liat, saya diberi keringanan ama Bu Herlina. Saya disuruh sungguh-sungguh. Ini surat adalah pernyataan kesungguhan.”
Tapi itu bohong lagi. Surat itu sendiri tidak pernah sungguh-sungguh. Akhirnya ia mengaku, kalau dia lagi tak punya duit buat beli rokok. Karena di kosan cuma ada map, maka maplah yang jadi korban sebagai pegangan tangannya ke kampus.
Sewaktu sore itu aku membuka pintu pagarnya, ia sedang duduk bersila seperti pertapa di teras kosannya dan aku berteriak: “Apa kabar Bung, masih sanggup membangkang?”
Ia berdiri, tertawa, dan berkata, ”Semuanya selesai, saya sudah monumental!” Aku langsung duduk di sebelahnya. Mukanya terlihat sedikit pucat dan tangan kanannya agak gemetar. Rambutnya yang tidak pernah sebahu sudah dipotongnya seperti tentara.
Matahari sore begitu tenang dan riang menerpa muka kami. Ketika aku menatap pagar kosannya, terali besi, soalah-olah ada seseorang yang memberikan kepadaku kacamata untuk menatap jejak-jejak sol-sol sepatu yang sesekali lewat, letih, dan harap. Aku ingin mengatakan kepadamu bahwa ada yang tidak letih dan harap, aku menatap ke kiri, aku menatap kubah musolah tua yang menempel pada langit biru terang, bersih, sedikit disapu awan putih bersih, dedaunan pohon bambu terdengar menggelisik ditiup angin. Aku menatap ke kanan dan aku mendapati lelaki itu sudah tidak ada.
Sampai sekarang aku masih mendengar suaranya yang lugu dan jujur di kamar sebelah waktu itu: ”Bagi gula, teh, air panas, ama cangkir dua sekalian, sahabat gue datang.” Lalu, aku duduk sendiri di terasnya, mengeluarkan sebungkus rokok mild dari tasku, rokok kesayangannya—siapa tau dia senang. Terali besi, sekejap terlihat transparan, seorang cewek dengan rambut kemerah-merahan dengan stelan yang serba ngetat, pinggulnya menyembul seperti pinggul bebek, melenggang agresif! Gayanya mengingatkan aku kepada seorang pelacur di sebuah trotoar di Jakarta sana, dengan handphone di tangan kanan, mulutnya yang bergincu menyebarkan asap rokok ke udara. Aku berkata pelan, “Kiri...kiri....” Lalu ia memalingkan mukanya kepadaku, seolah-olah ia sudah memasang tarif mahal di punggungnya. Aku diam saja: tidak merasakan apa-apa, juga tidak melihat apa-apa.
Tiba-tiba, terdengar suara tawa di telingaku, seorang lelaki dengan rambut seperti tentara, kaus putih polos dan celana jins biru pudar yang agak robek di lututnya--Bung yang tadi maksudku--membawa dua cangkir teh yang masih mengepul. Kami duduk berjejeran.
Ia mengeser cangkir putih itu ke depan kakiku, dan meletakkan cangkir yang satu lagi dengan tangannya yang kecil dan sedikit berurat, dengan sentuhan yang hati-hati, ke hadapan kakinya yang bersila.
“Masih sanggup membangkang Bung,” kataku.
“Boleh saya bagi rokok, “ katanya sambil memaling ke mukaku sebentar. Aku meletakkan bungkus rokok ke hadapannya, kataku, “Khusus buat Bung kok.”
“Terimakasih,” katanya. “Sekarang cerita apa yang kau mau dari saya.”
“Gak, nanya-nanya aja Bung.”
“Terkapar! Lu liat ke dalam, asbak rokok, puntung Jarum Coklat, sebatang pula dari pagi. Empat orang teteh juragan warung tebar muka sok jual mahal ke gue. Utang di mana-mana. Barusan ibu nelpon, katanya,’Assalammualikum, Nak. Udah gak bikin masalah lagi. Sudah baikan ama kakak di Bogor. Jakarta gimana. Sudah berhenti merokok.’ Gue jawab, ‘Assalammualikum juga ibu. Sekarang lagi ngerokok. Sehatwalafiat, baik, semua beres. Itu duit tolong dicairkan, buat apa lagi simpanan-simpanan lama itu, anak bungsu ibu mulai gak sanggup ini.’ Besok ting duit di Atm, terus, habis sekali penarikan tunai.”
Aku berdiri, di depan kaca kosannya, yang mengkilat dan berkilau karena cahaya matahari sore. Pura-pura melihat ke dalam kamarnya.
“Sekarang kau liat kabel itu, “ katanya.
Aku memalingkan pandanganku ke kabel yang menyambung dari atap yang satu ke atap yang satu, di antara dua rumah, melihat burung-burung yang berlari kian kemari, bernyanyi.
“Kenapa mereka begitu? Itulah kehidupan, mereka habis nyari makan, main-main sebentar. Dan kau tau , mereka selalu menunggu satu sama lain, kalau gak yang jantan, ya, yang betina. Mereka pasti punya rumah dan beranak pinak, persis seperti puisi Pablo Neruda: Aku tak suka rumah tanpa atap, jendela tanpa kaca/ aku tak suka siang tanpa kerja, malam tanpa tidur/ aku tak suka lelaki tanpa wanita, atau wanita tanpa lelaki/ aku ingin hidup untuk menyalakan ciuman yang tertunda//”
Aku diam, menyadari diriku tak bisa memberikan komentar. Aku membakar rokokku. Ia, kulihat, tegukan tehnya yang khas, membakar rokok dengan jari tangannya yang mengunting, korek terbakar, dengan posisi muka memiring. Tulang pipinya nampak menonjol.
“Selama ini saya begitu banyak dikelilingi orang-orang yang ingin meneguk sloki kejayaan dengan cara yang gampangan, tanpa keadilan, senyuman langit, dan canda tawa.”
Aku mengenalnya ketika hari pertama ia masuk rame-rame dengan teman-temannya di kelas A Jurnalistik. Berjalan ke belakang, dosen gak ada, dan ia ngerokok-ngerokok di sudut kelas, dekat jendela. Aku berpikir, ini orang songong benar, sok eksklusif, dan nekat-nekatan pula, tapi bisanya ketawa-ketawa doang. Sewaktu aku praktik lapangan mata kuliah Pak Sahala di Bumi Sangkuriang, ia meminta rekamanku. Padahal aku udah capek-caoek ngejar narasumber ke sana-sini. Dia kulihat cuma ongkang-ongkang kaki, ngerokok-ngerokok, ngobrol-ngobrol dengan teman-temannya. Nyaliku ciut juga waktu itu, ketika dia mendekat ke arahku, dia bilang, “Ntar gue ubah semua omongan narasumbernya. Intinya gue dapat nama orangnya, di media mana dia bekerja, dan sedikit sejarah kewartawanan dia. Bukannya begini cara kerja wartawan demi sebuah kata, deadline.”
Suatu sore pada pengunjung Semester V ketika aku ngobrol dengannya di teras kosannya, aku memberikan sebuah cerita kepadanya: “Kemarin liat si itu di kampus Bung. Sudah dewasa. Pelan dan damai. Pake bendo pula. Kayaknya sebuah perusahaan multinasional yang dinamis di kota sana udah nungguin dia Bung. Tapi udah punya cowok, married statusnya, calon suami konon katanya. Masih mau, kalau Bung gak mau, buat gue aja.”
“Cerita bagus dan kabar baik. Kapan gue cocoknya ke kampus. Besok rame gak? Besok ada gak dia kira-kira?”
Ia lalu berdiri, melangkah ke arah pagar, meningggalkannku yang masih duduk. Ia, dengan kedua belah tanganya, memegang puncak terali besi, dan memandang ke langit.
“Besok Kamis Bung. Gue satu mata kuliah doang. Kampus rame. Pasti adalah.”
Aku kagum pada tindakan-tindakannya yang monumental, yang orang lain tak pernah bisa melakukannya. Mungkin orang lain berpikir, buat apaan yang begitu-begituan, yang penting di dunia kerja. Ia bilang, “Urusan kerja ntar kita perhitungkan, kampus aja urus dulu. Sampai bosan dan Tuhan memberikan hidayah.” Pernah, katanya, ia ngerjain panitia OJ. Di depan ratusan pasang mata, di depan orang-orang yang menunggunya supaya ini orang dapat pelajaran, genting dan lelah, capek, bikin kita sengsara, ia katanya, “Kok malah ketawa. Padahal gue sunguh-sungguh.” Tapi, katanya, “Panitia lebih hebat lagi ketawanya pasti, masalahnya ditahan, jadi sampai ke paha sakitnya, antara sakit dan lucu, bayangkan!”
Aku sering bertanya kepadanya, bagaimana melakukan semua itu. Ia mengatakan, “Baru seperdelapan bagiannya saja itu. Kalau Lu mau liat tujuh perdelapannya lagi, ntar gue ceritakan.”
Aku tanyakan kepadanya, apa yang dimaksud tujuh perdelapan bagiannya itu. Ia menjawab, “Itulah yang dimaksud Hemingway keanggunan puncak gunung es. Masalah seni, susah untuk dijelaskan.”
“Katanya gak mau mengemis.”
“Ini lain kasusnya, ini urusan cinta, dan gak ada remeh temeh di dalamnya, total perjuangan.”
Ketika Kamis itu dia ke kampus, aku duduk di dekatnya. Kanopi kosong, “Ntar ceritanya, cari dulu tempat duduk lain, sebentar lagi dia lewat pasti, seluruh kanopi ini khusus buat dia.” Sebentar lagi cewek itu memang lewat dan ia berdiri, menyapa, ngobrol, sudah seperti salesman. Tapi kayaknya, katanya, “Di mau serius, sedangkan gue apa. Belum bisa nyari duit sendiri. Moga-moga dia bahagia ama suaminya ntar.”
“Kalah dong Bung,” kataku.
“Gak ada yang kalah. Kalah apabila kita membenci manusia, membenci hidup, gak bisa lagi membedakan mana yang baik, mana yang buruk. Malas berusaha. Kalau lain-lain dari itu, bagian dari perjuangan.”
Dapat apa, tanyaku.
“Cuma dapat sebuah puisi. Lumayan buat cerita-cerita buat anak istri sebelum tidur ntar.”
Ia menyuruhku diam, tenang, dan konsentrasi.
Aku diam, tenang, dan konsentrasi.
Di bukit-bukit aku menanak batu
Di bukit-bukit aku mencoba melupakanmu
Wajahmu, hanya wajahmu yang menghampar di kehijauan
Wajahmu, hanya wajahmu yang terlukis di tikungan
Langit tidak bercahaya, awan tidak putih bersih
Hingga malam tiba, aku merasa sendiri, dingin dan berembun
Malam tiba, gelap tiba di tikungan
Lampu satu-satunya mulai bercahaya, menabur di tikungan
Menaburkan cahayanya ke mukaku dan berkata: Lupakanlah!
“Keren Bung, tapi pilu.”
“”Gombal” terkeren yang pernah saya ciptakan. Bukan pilu, pilu udah gak jaman, melankolis sekarang.”
Ia tertawa.
“Kok ketawa,” kataku.
“Ya. Hiburan itu. Menangis terlalu jujur. Kebanyakan menangis bikin kita malas. Ayo...ayo...teruslah ketawa, sampai perut Lu sakit.”
Aku sudah lama rasanya duduk di teras kosannya. Bungkus rokok sudah kosong dan teh hanya tinggal cangkirnya, dua cangkir putih. Kami sama-sama menatap pagar berterali besi. Langit tidak lagi terang dan biru, awan tak lagi putih bersih. Langit perak dan awan sedikit memerah. Sebentar lagi Magrib, anak-anak sudah mandi, riang dan ceria, hendak mengaji. Dan aku sudah tidak bisa lagi menatap. Aku tak bisa lagi menatap, aku tak bisa lagi menatap, langit sudah gelap dan lampu-lampu, satu-satu menyala, dan terang dalam gelap.
“Tepat kan puisi gue, Lu liat lampu itu dan Lu liat malam itu. Semester depan pasti ada yang lebih baik lagi.”
----------------------------------------------------------------------------------
II.
Semester VI kosannya sudah pindah. Suatu malam, aku mengajaknya ke sebuah warung BKI di Ciseke. Sebuah warung tempat biasa kami menghabiskan malam-malam sehabis kuliah di Jurnalistik yang melelahkan tapi menyenangkan itu.
Pucuk-pucuk pohon pisang bergoyang tertiup angin, tidak hijau dan malam. Malam, sebuah kebun yang isinya entah apa, yang tidak pernah diurus, juga tidak begitu terlihat. Air meraung di kali kecil yang tak jauh dari sana; meraung dan memecah pada semen-semen dan batu-batu. Sewaktu kami duduk, warung sepi, Aanya bermuka serius menghitung bungkus-bungkus kopinya yang digantung di tali rapiah.
“Mainkan susu putih dua gelas. Ama mild sebungkus!”
Aku menanyakan kepadanya bagaimana SP. Baik, katanya, lebih ringan dan kita musti punya sedikit kesabaran nunggu dosen.
“Bagaimana desa, KKN, ketemu. Preman-preman lokal gimana. Anak-anak motornya bagaimana, menganggu?”
“Biasa, kurang beruntung. Desa sebelah kayaknya lebih berungtung.”
“Sungai bagaimana, pohon-pohon, bulan, bintang, dan lain-lain.”
“Gak pernah liat bulan, kebanyakan main PS2.”
Aa kayaknya lagi bertengkar dengan istrinya barusan, jadi kaku benar ia meletakkan gelas susu di hadapan kami dan rokoknya pun salah, jarum coklat pula yang diletakkannya di meja.
Aku tertawa. “Kok bisa?”
“Bisa aja, jangan-jangan dia gak tidur dua hari dua malam mikirin warung mau bangkrut.”
“Kurang pemasarannya. Kurang moderen. Muka selalu serius. Kebanyakan cowok kalau malam sih. Yang kacau-kacau pula. Yang lagi mabuklah. Yang habis diputusin, habis bikin blog tapi gak bagus, dan segala macam. Jangan-jangan setan pun pernah masuk warung ini, Bung.”
“Gak mungkin, setan takut ama dia.”
Akhirnya Aa keluar dengan lemparan mengagetkan di mejaku, sebungkus rokok mild, sebuah korek.
“Cerita lagi Bung,” kataku. “Masa gak ada perkembangan.”
Ia membakar sebatang rokok. “Cerita apa? Puisi, kau kira makan puisi anak orang. Dia maunya serius. Gue gak bisa. Sungguh sungguh bisa, perhatian dikit bisalah. Udah makan belum, habis kuliah apa, bagaimana photo yang gue editin kemarin, bagus gak: itu cara sudah dipakai ama pecundang-pecundang amatiran lain di FIKOM sana. Cantik deh, lucu, gak laku lagi. Basi. Buku sebagai simbol intelektual, lagu sebagai simbol keringanan, film sebagai simbol canda tawa dan tangis; kau tahu, itu nanti akan tersusun rapi ke dalam sebuah kotak karton yang pitanya bewarna merah jambu.“
“Bagus itu Bung.”
“Tapi ini berbahaya, genting dan darurat: kayak Rumah Sakit di Padang, saya sering minta obat gratis sewaktu SMA dulu. Orange dan putih kedip lampu di bukit-bukit. Kemarin gue liat IPK gue, orange warnanya, IPK dia putih, mata gue berkedip, terus gue merasa tinggi dan serasa di bukit. Malam mata gue gak mau tidur, gue liat langit, gak berbintang, tapi kemarin ada bintangnya. Gue liat lagi bukit, dan emang orange dan putih kedip lampu di sana. Tapi kalau siang semuanya bakalan hilang. Persis seperti sebuah puisi saya: aku ingin mencintaimu seperti embun yang memandikan rumput-rumput; tak serupa pamflet atau corat coret dinding. Aku ingin mencintaimu seperti embun, yang hilang karena siang, yang esok malam pasti kembali. Berarti ini nyata, bukan “gombal” lagi.”
Aku diam dan berjalan keluar. Bosan juga dengar ceritanya, perjuangan terus, dari semester tiga selalu itu ke itu saja. Berdiri tanpa rokok, aku memangku tanganku sendiri, aku melipatnya di depan, memagut dadaku. Dingin dan berembun. Bajuku dibelai angin dan dingin. Dia tiba-tiba berdiri di sebelahku. Katanya, “Ia maunya yang spesial. Gue gak ngerti spesial itu apa. Martabak manis spesial gue ngerti. Masalahnya dulu sering beli.”
Aku diam dan terus saja memandang langit, memandang sebuah kosan bertingkat putih yang lampu-lampu kamarnya mulai mengelap dan remang-remang.
“Pablo Neruda, Bung,” kataku.
“Apaan itu, pembual paling sukses se-Latin emang. Semuanya kena ama dia. Kuliah di Paris, di sana pula dia ting: baju kuliah teramat rapi, langkah kaki terasa sunyi, susu melimpah anugerah surgawi. Ikut perang katanya ke Spanyol, padahal kagak mah. Niatnya pengen ketemu Lorca, penyair yang lebih “gila” lagi dari dia, masa gak percaya wanita gara-gara ketahuan pacarnya gak perawan. Terus, Don Pablo menangis karena Lorca dikalahkan pangeran Franco, ditembak pake pistol dan pecah kepalanya. Pangeran Franco cemburu, karena takut Lorca mau merayu Ibunya, Ratu Spanyol.”
“Terus?”
“Don Pablo pulang ke Latin, jadi pembual di sana, kacau semua cewek sana ama dia, tiap perempatan katanya di Latin dia main gombal-gomabalan.”
“Pekerja keras itu Bung.”
“Gak, hampir jadi Presiden Cile itu , kalau dia yang jadi presiden, bisa kacau negara, dikasih makan puisi seluruh rakyat ama dia.”
“Tapi gombalnya keren Bung.”
“Ini,” katanya sambil mengeluarkan lipatan kertas dari sakunya.
“Gombal paling keren yang pernah diciptakan Pablo Neruda sewaktu dia suka ama cewek Cuba.
I like for you to be still
It is as though you are absent
Distant and full of sorrow
So you would’ve died
One word then, one smile is enough
And I’m happy;
Happy that it’s not true.
Recent Comments